Rabu, 25 Oktober 2017

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)




            
Pembelajaran berbasis masalah yang sering dikenal dengan Problem Based Instruction atau Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak (starting point) pembelajaran. Masalah-masalah yang dapat dijadikan sebagai sarana belajar adalah masalah yang memenuhi konteks dunia nyata (real world) yang akrab dengan kehidupan sehari-hari para siswa. 

Melalui masalah-masalah kontekstual ini para siswa menemukan kembali pengetahuan konsep-konsep dan ide-ide yang esensial dari materi pelajaran dan membangunnya kedalam stuktur kognitif. Senada dengan yang dikatakan oleh  Nurhadi (2004), pengajaran berbasis masalah adalah suatu pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Tan (dalam Minarni) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran berbasis masalah meliputi content learning, acquitition of process skills and problem solving skill, and lifewide learning.


Pembelajaran berbasis masalah mengubah peran siswa di kelas. Mula-mula mungkin siswa merasa kesulitan beradaptasi dengan konsep belajar mandiri dan dapat merasa terkejut, menolak, marah dan resisten. Tetapi setelah itu berlalu, siswa akan menerima dan percaya diri. Pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa mengambil tanggung jawab dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya, menemukan sumber, belajar melakukan penyelidikan mandiri dalam konteks kelompok kecil. Belajar dan berkelompok membentuk kolaborasi dengan siswa lain yang memfasilitasi pemahaman yang lebih baik terhadap masalah dapat meningkatkan transfer pengetahuan ke situasi baru (Minarni, 2012).

  
 Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah 

Berkenaan dengan karakteristik model Pembelajaran Berbasis Masalah, ada tiga hal pokok yang harus dimiliki, yaitu siswa menyelesaikan masalah sesuai dengan kemampuannya, masalahnya tidak terstruktur dengan baik (ill-structured), berarti kurangnya informasi yang diperlukan dan memuat isu yang tidak terselesaikan, menjadi kompleks melalui inkuiri dan investigasi, memerlukan alasan untuk dapat diselesaikan, jika mungkin dapat diselesaikan dengan lebih dari satu cara. Karakteristik utama yang dimiliki Pembelajaran Berbasis Masalah (Ibrahim dan Nur 2000) meliputi :

a.    Pengajuan masalah atau pertanyaan

Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) mengorganisasikan pembelajaran disekitar pertanyaan dan masalah sosial yang penting bagi siswa dan masyarakat. Masalah diberikan bersifat nyata bagi siswa dan tidak mempunyai jawaban sederhana. Arends (2007) menjelaskan situasi permasalahan yang baik sedikitnya memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) autentik yaitu masalah harus berkaitan dengan pengalaman dunia nyata siswa daripada prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu, (2) misteri yaitu masalah yang diajukan bersifat misterius atau teka-teki dan masalah tersebut sebaiknya memberikan tantangan dan tidak hanya mempunyai jawaban sederhana, serta memerlukan alternative pemecahan, (3) bermakna yaitu masalah yang diberikan hendaknya bermakna bagi siswa dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, (4) luas yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, sehingga memungkinkan mencapai tujuan pembelajaran, artinya masalah tersebut sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia serta masalah yang dirancang berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, (5) bermanfaat yaitu masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan memungkinkan siswa merasakan kebergunaan matematika, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

b.    Keterkaitannya dengan disiplin ilmu lain

Pembelajaran Berbasis Masalah mungkin masalah yang diajukan kepada siswa terkait dan melibatkan berbagai disiplin ilmu yang lain. Pemecahan masalah dunia nyata memungkinkan juga siswa meninjau masalah tersebut dari banyak segi atau mengkaitkannya dengan disiplin ilmu lain dan melibatkan berbagai konsep dan prinsip ilmu secara terintegratif.

c.    Penyelidikan yang autentik

Pembelajaran Berbasis Masalah menuntut guru untuk memotivasi siswa melakukan penyelidikan untuk menemukan pemecahan masalah autentik yang diajukan. Metode penyelidikan yang digunakan, bergantung pada masalah yang sedang diselesaikan, dimana siswa dapat memahami, menganalisis dan mendefenisikan masalah, mengembangkan, membuat hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan, menganalisis informasi, mengkoordinasi pengetahuan yang dimiliki untuk menemukan hubungan-hubungan, aturan-aturan yang diperlukan dalam pemecahan masalah dan melaksanakan eksperimen serta membuat kesimpulan.

d.   Mempresentasikan hasil kerja

Pembelajaran Berbasis Masalah menuntut siswa menyusun hasil pemecahan masalah dan menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya, peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan dalam bentuk laporan (karya tulis), produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video, maupun program computer. Hasil karya tersebut dipresentasikan di hadapan temannya. Setiap kelompok menyajikan hasil kerja di depan kelas, selanjutnya kelompok lain memberikan tanggapan dan kritikan. Guru  mengarahkan dan memberi petunjuk kepada siswa agar aktivitas siswa lebih efektif.

e.    Kolaborasi

Pembelajaran Berbasis Masalah mengkondisikan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar berupa pemecahan masalah secara bersama-sama antar siswa dengan temannya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Siswa berdiskusi atau bertanya dengan temannya, dan berkonsultasi dengan guru, ketika mengalami kesulitan. Guru mengkondisikan lingkungan belajar, agar siswa dapat saling berinteraksi dengan temannya dalam memecahkan masalah.

Arend (2007) juga menyebutkan beberapa karakterisitik dari Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu sebagai berikut:

1.    Pembelajaran Berbasis Masalah mengorganisasikan pengajaran di seputar masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara personal.

2.    Masalah dapat dibuat interdisipliner, tidak hanya satu materi, bahkan dapat dibuat masalah yang fokusnya antar pelajaran.

3.    Pembelajaran Berbasis Masalah mengharuskan siswa melakukan investigasi yang autentik dan juga penyeledikan untuk memperoleh data yang sebenar-benarnya.

4.    Pembelajaran Berbasis Masalah menuntut siswa membuat solusi dalam bentuk artefak atau exhibit yang menjelaskan dan mempresentasekan solusi mereka. Produk itu bisa berupa debat bohong-bohongan, laporan, video dan bentuk lain.

5.    Pembelajaran Berbasis Masalah ditandai dengan siswa yang bekerja sama dengan siswa-siswa lain. Bekerja sama dapat memberikan motivasi keikutsertaan dan mengembangkan keterampilan personal dan keterampilan sosial. Keunikan individu tiap siswa akan menjadi kekuatan untuk memecahkan masalah yang telah disajikan. Kerja sama juga penting karena bisa jadi masalah yang ditawarkan bukan lagi merupakan masalah bagi siswa yang sudah pernah memecahkan masalah yang serupa. 

Ketika Pembelajaran Berbasis Masalah diimplementasikan di kelas maka akan tercirikan pada kejadian-kejadian yang muncul menurut (Ibrahim dan Nur 2000)  seperti berikut ini:

a.       Keterlibatan (engagement) meliputi mempersiapkan siswa untuk berperan sebagai pemecah masalah (problem solver) yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk mampu menemukan masalah dan meneliti hakikat permasalahan sambil mengajukan dugaan dan rencana penyelesaian.

b.      Inkuiri dan investigasi (inquiry and investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan mendistribusikan informasi.

c.       Performansi (performance) yaitu menyajikan temuan

d.      Tanya-jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah. 

Langkah- langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah 

Ibrahim dan Nur (2003) mengemukakan bahwa secara garis besar Pembelajaran Berbasis Masalah terdiri dari lima tahapan utama, dimulai dari guru memperkenalkan masalah kepada siswa, mengorganisasikan siswa untuk belajar (membantu siswa mendefinisikan masalah), membimbing investigasi yang dilakukan oleh siswa terhadap situasi masalah yang disajikan baik secara individu maupun kelompok, membantu siswa dalam mengembangkan dan menyajikan hasil kerjanya, kemudian menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan. Kelima tahapan tersebut dapat dilihat dalam tabel 2.1 dibawah ini (Arends, 2007) :


Sintaksis Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Fase
Indikator
Perilaku Guru
1.
Mengorientasikan siswa pada masalah
·     Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
·     Menjelaskan logistik yang dibutuhkan.
·     Memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2.
Mengorganisasikan  siswa untuk belajar
·     Guru membantu siswa medefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
3.
Membimbing investigasi individual maupun kelompok
·     Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
4.
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
·     Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
5.
Menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah
·     Guru membantu siswa dalam melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

                                                                                      

           

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah kontekstual kepada siswa. Siswa dituntut melakukan penyelidikan dengan berangkat dari pengetahuan awal yang dimilikinya hingga konsep atau aturan yang diperlukan dalam pemecahan masalah secara kolaboratif. Dalam proses tersebut, guru dapat membantu siswa dengan pertanyaan penggiring, menemukan pola yang ada ataupun dengan soal yang lebih sederhana. Diharapkan siswa akan melaporkan hasil pembahasan mereka dan bersama-sama menganalisis atau menggeneralisasikan konsep.

Kelebihan dan Kelemahan  Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Adapun kelebihan model Pembelajaran Berbasis Masalah menurut Trianto (2009) adalah sebagai berikut:
1.        Realistik dengan kehidupan siswa

2.        Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa

3.        Memupuk sifat inquiry siswa

4.        Retensi konsep menjadi kuat

5.        Memupuk kemampuan pemecahan masalah.

Sedangkan kelemahan model Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu :

1.      Persiapan pembelajaran yang kompleks

2.      Sulitnya mencari masalah yang sesuai

3.      Sering terjadi miss-konsepsi

4.      Memerlukan waktu yang lama.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu pola pembelajaran dengan mengajukan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang mengacu kepada lima langkah pokok, yaitu (1) orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisir siswa untuk belajar (3) membimbing penyelidikan individual ataupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Teori Belajar yang Mendukung Pembelajaran Berbasis Masalah


Teori belajar yang mendasari model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan karakteristiknya diantaranya adalah teori belajar Dewey tentang pentingnya orientasinya masalah, teori belajar Vygotsky, Bruner dan Piaget tentang pentingnya investigasi dalam pembelajaran. Beberapa teori belajar ini yang akan mendampingi karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah yang akan diterapkan dalam penelitian ini.
Karakteristik pertama dari Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu orientasi mahasiswa pada masalah, menurut Dewey (Arends, 2007) mendeskripsikan pandangan tentang pendidikan dengan sekolah sebagai cermin masyarakat yang lebih besar dan kelas akan menjadi laboratorium untuk penyelidikan dan pengatasan masalah kehidupan nyata. Pedagogik Dewey mendorong pendidik melibatkan mahasiswa di berbagai proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki berbagai maslah sosial dan intelektual penting. Dewey dan peserta didiknya mengatakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya purposeful (memiliki maksud yang jelas) dan tidak abstrak diselesaikan dengan memerintah anak-anak dalam kelompok-kelompok kecil untuk menangani proyek-proyek.

Karakteristik yang kedua dari Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu mengorganisasikan (mengelompokkan) siswa untuk belajar, menurut Vygotsky (Arends, 2007) percaya bahwa intelektual berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman ini. Dalam pengalaman ini, individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengkonstruksikan makna baru. Vygotsky menekankan aspek sosial belajar. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain memacu pengkonstruksian ide-ide dan meningkatkan perkembangan intelektual anak. Menurut Vygotsky, pelajar memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual menentukan fungsi intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri hal-hal tertentu. Individu juga memiliki tingkat perkembangan potensial, yang oleh Vygotsky didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai individu dengan bantuan orang lain, misalnya pendidik, orangtua, atau teman sebayanya yang lebih maju. Zona yang terletak diantara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial pelajar disebut sebagai zone of proximal development.

Pembelajaran berbasis masalah juga menyandarkan diri pada konsep lain yang berasal dari Brunner, yakni idenya tentang scaffolding. Brunner (Dalam Dahar 2011) mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah: (1) memperoleh informasi baru; (2) transformasi informasi); (3) menguji relevansi dan ketepatan