Pembelajaran berbasis masalah yang
sering dikenal dengan Problem
Based Instruction atau Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak (starting point)
pembelajaran. Masalah-masalah yang dapat dijadikan sebagai sarana belajar
adalah masalah yang memenuhi konteks dunia nyata (real world) yang akrab dengan kehidupan sehari-hari para siswa.
Melalui
masalah-masalah kontekstual ini para siswa menemukan kembali pengetahuan
konsep-konsep dan ide-ide yang esensial dari materi pelajaran dan membangunnya
kedalam stuktur kognitif. Senada dengan yang dikatakan oleh Nurhadi (2004), pengajaran berbasis masalah
adalah suatu pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks
bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial
dari materi pelajaran. Tan (dalam Minarni) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran
berbasis masalah meliputi content
learning, acquitition of process skills and problem solving skill, and lifewide
learning.
Pembelajaran berbasis masalah
mengubah peran siswa di kelas. Mula-mula mungkin siswa merasa kesulitan
beradaptasi dengan konsep belajar mandiri dan dapat merasa terkejut, menolak,
marah dan resisten. Tetapi setelah itu berlalu, siswa akan menerima dan percaya
diri. Pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa mengambil tanggung jawab
dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya, menemukan sumber, belajar melakukan
penyelidikan mandiri dalam konteks kelompok kecil. Belajar dan berkelompok
membentuk kolaborasi dengan siswa lain yang memfasilitasi pemahaman yang lebih
baik terhadap masalah dapat meningkatkan transfer pengetahuan ke situasi baru
(Minarni, 2012).
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Berkenaan dengan
karakteristik model Pembelajaran Berbasis Masalah, ada
tiga hal pokok yang harus dimiliki, yaitu siswa menyelesaikan masalah sesuai
dengan kemampuannya, masalahnya tidak terstruktur dengan baik (ill-structured),
berarti kurangnya informasi yang diperlukan dan memuat isu yang tidak
terselesaikan, menjadi kompleks melalui inkuiri dan investigasi, memerlukan
alasan untuk dapat diselesaikan, jika mungkin dapat diselesaikan dengan lebih
dari satu cara. Karakteristik utama yang dimiliki Pembelajaran
Berbasis Masalah (Ibrahim dan Nur 2000) meliputi :
a. Pengajuan
masalah atau pertanyaan
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) mengorganisasikan
pembelajaran disekitar pertanyaan dan masalah sosial yang penting bagi siswa
dan masyarakat. Masalah diberikan bersifat nyata bagi siswa dan tidak mempunyai
jawaban sederhana. Arends (2007) menjelaskan situasi permasalahan yang baik
sedikitnya memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) autentik yaitu masalah harus
berkaitan dengan pengalaman dunia nyata siswa daripada prinsip-prinsip disiplin
akademik tertentu, (2) misteri yaitu masalah yang diajukan bersifat misterius
atau teka-teki dan masalah tersebut sebaiknya memberikan tantangan dan tidak
hanya mempunyai jawaban sederhana, serta memerlukan alternative pemecahan, (3)
bermakna yaitu masalah yang diberikan hendaknya bermakna bagi siswa dan sesuai
dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, (4) luas yaitu masalah yang
disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, sehingga memungkinkan mencapai
tujuan pembelajaran, artinya masalah tersebut sesuai dengan waktu, ruang, dan
sumber yang tersedia serta masalah yang dirancang berdasarkan pada tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan, (5) bermanfaat yaitu masalah yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir dan memungkinkan siswa merasakan kebergunaan matematika,
serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
b. Keterkaitannya
dengan disiplin ilmu lain
Pembelajaran
Berbasis Masalah mungkin masalah yang diajukan kepada siswa terkait dan
melibatkan berbagai disiplin ilmu yang lain. Pemecahan masalah dunia nyata
memungkinkan juga siswa meninjau masalah tersebut dari banyak segi atau
mengkaitkannya dengan disiplin ilmu lain dan melibatkan berbagai konsep dan
prinsip ilmu secara terintegratif.
c. Penyelidikan
yang autentik
Pembelajaran
Berbasis Masalah menuntut guru untuk memotivasi siswa melakukan penyelidikan
untuk menemukan pemecahan masalah autentik yang diajukan. Metode penyelidikan
yang digunakan, bergantung pada masalah yang sedang diselesaikan, dimana siswa
dapat memahami, menganalisis dan mendefenisikan masalah, mengembangkan, membuat
hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan, menganalisis informasi, mengkoordinasi
pengetahuan yang dimiliki untuk menemukan hubungan-hubungan, aturan-aturan yang
diperlukan dalam pemecahan masalah dan melaksanakan eksperimen serta membuat
kesimpulan.
d. Mempresentasikan
hasil kerja
Pembelajaran
Berbasis Masalah menuntut siswa menyusun hasil pemecahan masalah dan
menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya, peragaan yang menjelaskan atau
mewakili bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan dalam bentuk laporan (karya
tulis), produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video, maupun program
computer. Hasil karya tersebut dipresentasikan di hadapan temannya. Setiap
kelompok menyajikan hasil kerja di depan kelas, selanjutnya kelompok lain
memberikan tanggapan dan kritikan. Guru
mengarahkan dan memberi petunjuk kepada siswa agar aktivitas siswa lebih
efektif.
e. Kolaborasi
Pembelajaran
Berbasis Masalah mengkondisikan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar
berupa pemecahan masalah secara bersama-sama antar siswa dengan temannya, secara
berpasangan atau dalam kelompok kecil. Siswa berdiskusi atau bertanya dengan
temannya, dan berkonsultasi dengan guru, ketika mengalami kesulitan. Guru
mengkondisikan lingkungan belajar, agar siswa dapat saling berinteraksi dengan
temannya dalam memecahkan masalah.
Arend
(2007) juga menyebutkan beberapa karakterisitik dari Pembelajaran Berbasis
Masalah yaitu sebagai berikut:
1.
Pembelajaran Berbasis Masalah mengorganisasikan
pengajaran di seputar masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara
personal.
2.
Masalah dapat dibuat interdisipliner, tidak hanya
satu materi, bahkan dapat dibuat masalah yang fokusnya antar pelajaran.
3.
Pembelajaran Berbasis Masalah mengharuskan siswa
melakukan investigasi yang autentik dan juga penyeledikan untuk memperoleh data
yang sebenar-benarnya.
4.
Pembelajaran Berbasis Masalah menuntut siswa membuat
solusi dalam bentuk artefak atau exhibit yang
menjelaskan dan mempresentasekan solusi mereka. Produk itu bisa berupa debat
bohong-bohongan, laporan, video dan bentuk lain.
5.
Pembelajaran Berbasis Masalah ditandai dengan siswa
yang bekerja sama dengan siswa-siswa lain. Bekerja sama dapat memberikan
motivasi keikutsertaan dan mengembangkan keterampilan personal dan keterampilan
sosial. Keunikan individu tiap siswa akan menjadi kekuatan untuk memecahkan
masalah yang telah disajikan. Kerja sama juga penting karena bisa jadi masalah
yang ditawarkan bukan lagi merupakan masalah bagi siswa yang sudah pernah
memecahkan masalah yang serupa.
Ketika Pembelajaran Berbasis Masalah diimplementasikan
di kelas maka akan tercirikan pada kejadian-kejadian yang muncul
menurut (Ibrahim dan Nur 2000) seperti berikut ini:
a.
Keterlibatan (engagement) meliputi mempersiapkan siswa
untuk berperan sebagai pemecah masalah (problem
solver) yang bisa bekerja sama dengan pihak lain,
menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk mampu menemukan masalah
dan meneliti hakikat permasalahan sambil mengajukan dugaan dan rencana
penyelesaian.
b.
Inkuiri dan investigasi (inquiry
and investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan
mendistribusikan informasi.
c.
Performansi (performance)
yaitu menyajikan temuan
d.
Tanya-jawab (debriefing) yaitu
menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses pemecahan
masalah.
Langkah- langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Langkah- langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Ibrahim
dan Nur (2003) mengemukakan bahwa secara garis besar Pembelajaran
Berbasis Masalah terdiri dari lima tahapan utama,
dimulai dari guru memperkenalkan masalah kepada siswa, mengorganisasikan siswa
untuk belajar (membantu siswa mendefinisikan masalah), membimbing investigasi
yang dilakukan oleh siswa terhadap situasi masalah yang disajikan baik secara
individu maupun kelompok, membantu siswa dalam mengembangkan dan menyajikan
hasil kerjanya, kemudian menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian
masalah yang telah dilakukan. Kelima tahapan tersebut dapat dilihat
dalam tabel 2.1 dibawah ini (Arends, 2007) :
Sintaksis Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase
|
Indikator
|
Perilaku
Guru
|
1.
|
Mengorientasikan siswa pada masalah
|
· Guru menjelaskan
tujuan pembelajaran.
· Menjelaskan logistik
yang dibutuhkan.
· Memotivasi siswa
terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
|
2.
|
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
|
·
Guru membantu siswa medefinisikan dan mengorganisasikan
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
|
3.
|
Membimbing investigasi
individual maupun kelompok
|
·
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan
masalah.
|
4.
|
Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya
|
·
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan
karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model serta membantu mereka
untuk berbagi tugas dengan temannya
|
5.
|
Menganalisis dan mengevaluasi
proses penyelesaian masalah
|
· Guru membantu siswa
dalam melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan.
|
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah
adalah sebuah model pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah
kontekstual kepada siswa. Siswa dituntut melakukan penyelidikan dengan
berangkat dari pengetahuan awal yang dimilikinya hingga konsep atau aturan yang
diperlukan dalam pemecahan masalah secara kolaboratif. Dalam proses tersebut,
guru dapat membantu siswa dengan pertanyaan penggiring, menemukan pola yang ada
ataupun dengan soal yang lebih sederhana. Diharapkan siswa akan melaporkan hasil
pembahasan mereka dan bersama-sama menganalisis atau menggeneralisasikan
konsep.
Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Adapun kelebihan model Pembelajaran Berbasis Masalah menurut Trianto (2009) adalah sebagai berikut:
1.
Realistik dengan kehidupan siswa
2.
Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
3.
Memupuk sifat inquiry siswa
4.
Retensi konsep menjadi kuat
5.
Memupuk kemampuan pemecahan masalah.
Sedangkan kelemahan
model Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu :
1. Persiapan
pembelajaran yang kompleks
2. Sulitnya
mencari masalah yang sesuai
3. Sering
terjadi miss-konsepsi
4. Memerlukan
waktu yang lama.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu pola pembelajaran dengan mengajukan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang mengacu kepada lima langkah pokok, yaitu (1) orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisir siswa untuk belajar (3) membimbing penyelidikan individual ataupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Teori Belajar yang Mendukung Pembelajaran Berbasis Masalah
Teori belajar yang
mendasari model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan karakteristiknya
diantaranya adalah teori belajar Dewey tentang pentingnya orientasinya masalah,
teori belajar Vygotsky, Bruner dan Piaget tentang pentingnya investigasi dalam
pembelajaran. Beberapa teori belajar ini yang akan mendampingi karakteristik
Pembelajaran Berbasis Masalah yang akan diterapkan dalam penelitian ini.
Karakteristik pertama
dari Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu orientasi mahasiswa pada masalah, menurut
Dewey (Arends, 2007) mendeskripsikan pandangan tentang pendidikan dengan
sekolah sebagai cermin masyarakat yang lebih besar dan kelas akan menjadi
laboratorium untuk penyelidikan dan pengatasan masalah kehidupan nyata.
Pedagogik Dewey mendorong pendidik melibatkan mahasiswa di berbagai proyek
berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki berbagai maslah sosial dan
intelektual penting. Dewey dan peserta didiknya mengatakan bahwa pembelajaran
di sekolah seharusnya purposeful (memiliki
maksud yang jelas) dan tidak abstrak diselesaikan dengan memerintah anak-anak
dalam kelompok-kelompok kecil untuk menangani proyek-proyek.
Karakteristik yang
kedua dari Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu mengorganisasikan
(mengelompokkan) siswa untuk belajar, menurut Vygotsky (Arends, 2007) percaya
bahwa intelektual berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan
membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang ditimbulkan
oleh pengalaman-pengalaman ini. Dalam pengalaman ini, individu menghubungkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengkonstruksikan makna
baru. Vygotsky menekankan aspek sosial belajar. Vygotsky percaya bahwa
interaksi sosial dengan orang lain memacu pengkonstruksian ide-ide dan
meningkatkan perkembangan intelektual anak. Menurut Vygotsky, pelajar memiliki
dua tingkat perkembangan yang berbeda, yaitu tingkat perkembangan aktual dan
tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual menentukan fungsi
intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri
hal-hal tertentu. Individu juga memiliki tingkat perkembangan potensial, yang
oleh Vygotsky didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai
individu dengan bantuan orang lain, misalnya pendidik, orangtua, atau teman
sebayanya yang lebih maju. Zona yang terletak diantara tingkat perkembangan
aktual dan tingkat perkembangan potensial pelajar disebut sebagai zone of proximal development.
Pembelajaran berbasis
masalah juga menyandarkan diri pada konsep lain yang berasal dari Brunner,
yakni idenya tentang scaffolding.
Brunner (Dalam Dahar 2011) mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses
yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah: (1) memperoleh
informasi baru; (2) transformasi informasi); (3) menguji relevansi dan
ketepatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar